Kilas balik :
Ini adalah dongeng pertama saya yang dimuat di Bobo setelah beberapa cerita tidak berhasil tembus. Karena sangat penasaran untuk bisa dimuat di media tersebut, trik yang saya pakai adalah membuat judul yang unik dan menarik. Jadi, saya membuat judul terlebih dahulu baru memikirkan ceritanya 😄. Alhamdulillah berhasil.
Penasaran ceritanya? Yuk baca cerita para kurcaci di bawah ini.
Tak Tik Jitu Kurcaci Tiki
Oleh Nurul Ikoma
“Huh... selalu seperti ini,” dengus kurcaci Tiki memeriksa tiap halaman buku yang ia pegang. Ada banyak coretan hampir ditiap halamannya. Dengan muka kesal lalu Tiki menyemprotkan ramuan ajaib ke coretan-coretan itu. Sebentar kemudian coretan-coretan itu menghilang, dan buku menjadi bersih kembali.
“Jangan mengeluh. Sudah menjadi tugas kita sebagai kurcaci Penjaga Perpustakaan untuk merawat buku-buku ini,” ucap Perp, kurcaci berkaca mata merapikan buku-buku di rak.
Mendengar kata-kata Perp, kurcaci
Tiki hanya bisa diam dengan muka masam. Dalam hati ia bertanya, kenapa
manusia-manusia itu tak bisa merawat buku dengan baik? Selalu saja buku-buku
yang mereka pinjam, kembali tidak dalam keadaan seperti semula. Kadang ada
coretan, lipatan-lipatan, lecek, bahkan ada yang sobek.
Lalu Tiki meletakkan buku yang sudah
ia bersihkan ke rak hijau. “Hei... buku dongeng letaknya di rak merah,” ucap
Perp mengingatkan. Tiki tertawa kecil. Ia memang kurcaci yang pelupa. Tiki pun
segera meletakkan bukunya tadi ke rak merah. Kemudian ia kembali ke tempat
duduknya. Tapi ia mendadak kebingungan. Kedua alisnya bertaut. Ia menoleh
kesana-kemari, mencari sesuatu. “Ada yang melihat botol ramuan ajaibku?”
tanyanya.
“Ada di sakumu,” jawab
kurcaci-kurcaci penjaga perputakaan serempak. Ya... Tiki selalu saja lupa.
“Ya ampuuun... lihatlah teman-teman.
Buku ini jorok sekali. Ada banyak minyak di sana-sini,” teriak Noe kurcaci yang
paling gendut.
Tiki dan Perp menoleh kearah Noe
bersamaan. Lalu mereka menghampiri Noe dan melihat buku yang ia pegang.
“Bekas minyak dibuku ini sudah kucoba
hilangkan dengan ramuan ajaib, tapi tidak bisa,” ucap Noe.
“Ini sudah tak bisa dibiarkan. Kita
harus melakukan sesuatu. Karena kalau tidak, buku-buku ini bisa rusak
semuanya,” seru kurcaci Tiki.
“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya
Perp sambil membetulkan kacamatanya. Tiki tak menjawab. Ia sedang memikirkan
sesuatu. Sedangkan kurcaci-kurcaci lainnya menatap Tiki dengan wajah keheranan.
Keesokan paginya Tiki mengambil
semua botol-botol ramuan ajaib dan memasukkannya ke dalam kantong. Kemudian ia
mengendap-endap menuju pintu perpustakaan. Ia pergi tanpa sepengetahuan
teman-temannya.
Hari menjelang siang. Seperti biasa
perpustakaan selalu ramai dikunjungi para siswa saat istirahat. Kurcaci-kurcaci
penjaga perpustakaan mengamati para siswa dari balik buku-buku.
“Hei... jangan menumpuk buku dalam jumlah banyak. Nanti buku-buku itu bisa rusak, lembarannya bisa saling menempel, dan jilidnya bisa gampang lepas,” teriak Tiki marah pada seorang siswa diantara buku-buku pelajaran.
“Hei... kamu, jangan membaca buku sambil makan snack. Minyaknya bisa menempel di buku,” teriaknya lagi pada siswa berbadan gemuk. Tapi percuma, siswa itu tak mendengar suaranya.
Jam sekolah berakhir. Kini tugas
para kurcaci dimulai kembali seperti biasanya. Mereka harus merapikan buku-buku
yang baru dipinjam para siswa. Dari merapikan buku yang ada lipatannya,
membersihkan buku yang ada coretan-coretannya dan lain-lain.
“Ramuan ajaib kita hilang,” teriak
Noe heboh. Kurcaci-kurcaci lainnya pun kaget.
“Bagaimana ini? Kita takkan bisa
melakukan tugas dengan baik tanpa ramuan ajaib itu,” kata Perp. Tiki pura-pura
tidak tahu.
Seminggu berlalu dan botol-botol ramuan ajaib itu belum ditemukan.
Hari ini Pak Dendi petugas perpustakaan banyak mendapat keluhan dari siswa. Mereka mengeluhkan buku-buku yang rusak dan tidak rapi seperti biasanya.
“Bukunya kenapa lecek begini, Pak? Banyak lipatan lagi,” tanya anak perempuan berkacamata.
“Pak...
Kok bukunya jorok begini?” tanya anak laki-laki bertubuh gemuk. Dan banyak
keluhan-keluhan lainnya.
Pak
Dendi pun melihat buku daftar peminjaman buku. Dengan begitu Pak Dendi bisa
tahu siapa-siapa yang terakhir meminjam buku dan mengembalikannya dalam
keaadaan rusak. Maka siswa itulah yang harus bertanggung-jawab.
Setelah kejadian itu akhirnya banyak siswa menyadari akan pentingnya memperlakukan buku dengan baik. Sebab buku adalah sumber ilmu, harus dijaga dan dirawat.
Kini mereka tak lagi melipat lembaran buku yang mereka baca, tapi mereka menggunakan pembatas buku. Mereka tak mencoret-coret buku lagi. Mereka tak mengotori atau merusak buku lagi. Pak Dendi senang, demikian juga dengan Tiki dan kurcaci-kurcaci lainnya.
“Taktikku berhasil. Tak sia-sia aku menyembunyikan botol-botol ramuan ajaib itu. Ya biar manusia-manusia itu tahu akan kesalahannya,” ucap Tiki senang.
“Apa?” tanya Perp.
“Oh... tidak apa-apa,” sahut Tiki cepat. Kemudian ia memikirkan sesuatu.
“Meski manusia-manusia itu sudah menyayangi buku, kita harus tetap ikut merawat buku-buku di perpustakaan ini,” ujar Perp.
“Lalu apa kita masih memerlukan botol-botol ramuan ajaib yang telah hilang itu?” tanya Noe.
“Hmmm... bagaimana menurutmu, Tiki?” tanya Perp.
Mendengar pertanyaan Perp, kurcaci Tiki gelagapan. Ia bingung harus menjawab apa. Sebab ia lupa dimana menyimpan botol-botol ramuan ajaib itu. Dan hingga saat inipun belum ditemukan. Apakah kalian tahu dimana botol-botol itu berada?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar