Rabu, 15 Oktober 2025

Komik Misteri : Misteri di Hutan Kalimantan

 

Covernya auw.. seneng banget lihatnya. Dan ini ceritanya seruuu...loh

 
        Penulis     : Nuriko (Nurul Ikoma)
      Ilustrator   : Ekassu
      Penerbit    : Gema Insani

         Ranti sebagai murid baru di sekolah daerah Kalimantan mendapat sepucuk surat misterius. Karena penasaran, Ranti bersama teman-teman barunya menyelidiki siapa sebenarnya pengirim surat misterius itu.

        Namun, ada hal yang lebih membuat misterius. Teman sekelasnya, Hikal, sudah beberapa hari tidak masuk sekolah, tetapi ada keganjilan. Hikal tidak berada di rumah.

     Siapakah pengirim surat misterius untuk Ranti? Apa dibalik surat misterius itu? Apa yang sebenarnya terjadi dengan Hikal? Akankah Hikal kembali ke rumah?Temukan jawabannya dalam cerita Komik Baik, Misteri di Hutan Kalimantan.

        Di dalam komik ini, kamu bisa menulis cerita dan membuat komik sendiri, lho. Asyikkan? Yuk pesan komik ini sekarang. Bisa pesan di saya dengan DM instagram ke @nurulikoma atau ke instagram @insanikids. Bisa juga ke web Gema Insani, ya.

Komik Baik : Vlog Viral Amel

Ceritanya seru. Ada lucunya dan juga menegangkan.

        Penulis         : Nuriko (Nurul Ikoma)
        Ilustrasi        : Tim Innerchild
        Penerbit        : Insani Kids


        Amel adalah seorang youtuber dengan konten random. Followernya masih berjumlah 5 ribuan. Dengan segala cara dia berusaha agar followernya bertambah. Namun, vlog random yang dibuatnya ternyata membawa bencana. Pencuri membobol rumahnya saat Amel bersama adik dan teman-temannya, sedangkan orang tua Amel sedang bepergian. Ammar adik Amel pun membuat sebuah kode untuk mencari bantuan.

        Bagaimana reaksi Amel saat pencuri membobol rumahnya? Kode apakah yang dibuat Ammar untuk mendapatkan bantuan? Apakah Amel akan melanjutkan membuat vlog?

        Temukan keseruan kisah kakak beradik, Amel dan Ammar dalam Komik Baik, Vlog Viral Amel. Komik ini tidak hanya berisi kisah seru keseharian Amel dan Ammar, di komik kamu bisa menulis cerita dan komikmu sendiri. Yuk, baca komik ini dan ikut membantu memecahkan kode rahasianya. 

        Komik ini bisa dipesan di saya dengan DM instagram @nurulikoma atau @insanikids. Bisa juga  ke web penerbitnya langsung yakni Gema Insani.

Jumat, 08 Agustus 2025

Setelah Vakum Lama Alhamdulillah Segera Terbit Buku Baru

    
Kegiatan saat pandemi berkebun dan ngonten


    Pandemi beberapa tahun lalu membuat semangat menulis saya jatuh. Sedih, belasan buku tak jadi terbit, ada yang diobral murah bahkan dilebur. (*Plak. Walah padahal banyak teman yang mengalami juga😄)
Di situ merasa capek banget dan sia-sia apa yang sudah dilakukan, mengingat menjalani prosesnya tak mudah karena anak sering sakit.

    Oiya, saat itu banyak penerbit yang tutup sementara menerima naskah. Jadi semakin membuat saya  tidak minat menulis lagi. Namun sedikit terobati saat ada harapan bisa mengirim naskah buku pengayaan meski harus ikut kelas-kelas online. Beberapa lolos, tapi sayangnya nggak jadi terbit juga 😆. Minat menulis buku pun ndlosor lagi.

    Kemudian saya mengenal Youtube dan menemukan beberapa channel untuk healing. "Eh kok kayaknya enak ya punya channel?" pikir saya. Saya pun jadi tertarik untuk membuat saluran juga. Dan yup saya mulai ngonten. Dari konten jalan-jalan , membuat prakarya sampai journaling dan budgeting. Awalnya semangat, namun lama-lama bosan juga. Apalagi subsciber tak naik-naik hahaha...


Celengan Doraemon dari botol bekas air mineral tembus 160 ribu tayangan di Youtube.


    Ketika lagi senang-senangnya main Youtube, saya jarang buka Facebook maupun Instagram. Disitulah saya semakin jauh dengan dunia menulis. Saya tidak tahu lagi info-info menulis, dan semakin jarang berinteraksi dengan teman-teman penulis. Parahnya lagi komputer dan laptop rusak karena jarang tersentuh. Hiks.

    Pertengahan tahun 2024 saya kangen menulis, apalagi melihat teman-teman yang mulai mbrudul karyanya yang terbit. Alhamdulillah senang melihat dunia penerbitan buku mulai menggeliat kembali. Dan saya harus menulis lagi. Titik.

    Memutuskan untuk kembali menulis bukan perkara gampang. Sebab alat perang saya rusak (komputer dan laptop). Sampai suatu hari suami ditugaskan Bos untuk membuang beberapa CPU yang rusak di gudang. Beliaupun meminta ijin untuk membawanya pulang.

    Di rumah, CPU-CPU tersebut dibongkar. Lalu suami mengumpulkan komponen-komponen yang masih OK dari beberapa CPU untuk dirakit menjadi satu dan berfungsi. Alhamdulillah berhasil. Senang banget istrinya.


Sekitar ada 6 CPU rusak yang dibongkar untuk digabungkan
 komponen-komponennya agar menjadi 1 CPU layak pakai.

        Kemudian kendala lain datang, saya bingung mau menulis apa saking lamanya tidak menulis buku. Sampai akhrnya di bulan Oktober 2024 ada penerbit yang membutuhkan banyak naskah. Kesempatan bagus ya, kan? Sebab dari pengalaman saya kalau penerbit butuh naskah, maka naskah tersebut akan cepat terbitnya. Kita juga tidak perlu menunggu kabar naskah berbulan-bulan antara diterima atau nggaknya.

     Tapi tunggu dulu, naskah yang dibutuhkan ternyata saya belum pernah menulisnya. Naskah yang diminta tersebut adalah naskah komik. Namun Allah punya cara untuk menolong hambaNya. Tiba-tiba saya disodori naskah komik mentah oleh 2 teman penulis, lalu saya juga dapat bimbingan tipis-tipis gratis dari teman penulis bestseller. Alhamdulillah masyaallah.

      Proses menulis komik semakin lancar saat mempelajari kembali file kelas komik (kelas yang pernah saya ikuti saat pandemi). Dan kabar baiknya lagi 2 naskah komik saya di ACC, salah satunya dengan masa tunggu 2 pekan. Alhamdulillah.

Di bawah ini ada beberapa karakter yang harus saya pilih sebelum komikus membuat sketsa cerita

    
    Tunggu terbitnya 2 komik ini ya teman-teman, insyaallah anak-anak suka. Ceritanya seru, lucu, dan menegangkan. Dan tak kalah penting lagi ilustrasinya menarik. 


Senin, 04 Agustus 2025

Buku Islami : Allah Mencipta Manusia Meniru

 


Buku Allah Mencipta Manusia Meniru

Oleh Nurul Ikoma dan Fadila Hanum

Penerbit : Tiga Ananda (Imprint Tiga Serangkai)

Ilustrator : Innerchild Std


Masyaallah! Betapa mengagumkannya ciptaan Allah SWT dengan keunikan masing-masing.

Ciptaan Allah ini ternyata menginspirasi manusia untuk membuat berbagai benda dan kreasi yang membantu kehidupan manusia lainnya.

Apa saja ya kreasi manusia yang terinspirasi dari ciptaan Allah SWT? Ayo, cari tahu bersama buku ini. 

Buku ini saya tulis bersama Mbak Fadila Hanum. Ada banyak cerita seru di dalamnya, selain menarik ilustrasinya juga cantik. Buku ini bisa dibeli di market place ya teman-teman, bagus untuk menambah wawasan anak-anak.

Buku Islami : Seri Kebenaran Al Qur'an


 


Buku Seri Kebenaran Al Qur'an

Oleh Nurul Ikoma


Buku bergambar ini ada 5 judul ya teman-teman.
Antara lain : 1. Api di Laut
                     2. Tumbuhan Bertasbih
                     3. Laut Terbelah
                     4. Mawar di Langit
                     5. Gunung Pelangi

Buku-buku ini selain berisi cerita dan ilustrasi yang menarik, juga ada fakta yang akan menambah wawasan si kecil. Yakni fakta tentang kebenaran yang ada dalam Al Qur'an.







Dongeng Bobo : Tarian Pohon Mengkudu

 


Kilas balik :

Kalau nggak salah saya menulis cerita ini karena tinggal di perumahan yang banyak sekali ditanami pohon mangga. Namun ada satu rumah yang menarik perhatian saya, yakni tidak menanam pohon mangga melainkan menanam pohon mengkudu.

Dari sini saya cari info manfat buah mengkudu. Alhadulillah cerita ini tembus Bobo. Saat melihat ilustrasinya mata langsung berkaca-kaca karena terharu.


Tarian Pohon Mengkudu

Oleh Nurul Ikoma


Namanya Pohon Mengkudu. Pohon yang dikenal dengan buah buruk rupa ini, suka menari jika ada angin yang menerpanya.

“Hmmm... haruuum...,” ucap Pohon Mengkudu meliuk-liuk mengikuti gerakan angin.

Ia terus menerus mengendus aroma bunga mangga yang ada disekitarnya. Pohon Mengkudu memang suka aroma wangi bunga mangga. Pohon-pohon mangga jadi tersenyum geli melihatnya.

            “Wah... lihat! Pohon Mengkudu sedang menari,” kata Pohon Mangga Gadung.

“Kamu benar-benar lucu, Pohon Mengkudu,” seru Pohon Mangga Manalagi.

“Iya... ya. Dia selalu membuat kita tertawa,” sahut Pohon Mangga Madu.

Mendengar itu, Pohon Mengkudu terus menggoyang-goyangkan badannya. Ia senang dengan ucapan teman-temannya. Namun tiba-tiba angin besar berhembus dan merontokkan buah-buah Pohon Mengkudu.

Anak-anak kecil yang kebetulan lewat, mengambil buah-buah itu. Lalu mereka saling melempar dan membuangnya. Bahkan ada pula yang menginjak-injak atau membanting buah kuning kehijauan itu. Pohon Mengkudu jadi sedih sekali.

**

“Wah... asyiiik..., sebentar lagi buah-buahku akan di panen,” kata Pohon Mangga Gadung.

“Iya. Bahkan buahku yang masih muda pun juga dipanen, karena sudah manis,” seru Pohon Mangga Manalagi.

“Buahku juga manis, lho,” sahut Pohon Mangga Madu tak mau kalah.

Pohon-pohon mangga itu sedang bergembira. Bunga-bunga mereka sudah berganti menjadi buah yang siap panen.

“Buahku juga siap dipanen, lho,” teriak Pohon Mengkudu memberitahu. Ia tersenyum sambil terus menari-nari karena hembusan angin.

Pohon-pohon mangga tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sebagian ada yang sampai terbatuk-batuk. Pohon Mengkudu masih tersenyum. Dikiranya, pohon mangga-mangga itu sedang tertawa melihat tariannya.

“Tapi, yang suka buah kamu itu cuma Kakek Suto,” kata Pohon Mangga Gadung tertawa.

“Anak-anak kecil di sini tidak suka buah mengkudu. Hihihi...,” Pohon Mangga Manalagi terkekeh.

Pohon Mengkudu berhenti menari. Mukanya cemberut.

“Teman-teman... hentikan gurauan kalian. Lihat, Pohon Mengkudu jadi bersedih!” ucap Pohon Mangga Madu.

Pohon Mangga Gadung dan Manalagi langsung menghentikan tawa mereka. Sejak saat itu Pohon Mengkudu selalu bersedih, ia tak mau tersenyum walaupun sedang menari bersama angin. Ia baru tersenyum jika Kakek Suto mengambil buah-buahnya.

**

       “Kemana ya, Kakek Suto? Harusnya ia sudah mengambil buah-buahku lagi,” gumam Pohon Mengkudu.

            “Hei... Kakek Suto datang. Pasti ia akan mengambil buah-buahmu,” seru Pohon Mangga Madu.

Kakek Suto datang bersama cucu-cucunya. Ia membawa galah dan keranjang kecil. Pohon Mengkudu bergembira.

Tapi, Kakek Suto berhenti di bawah pohon mangga madu. Dengan galah tersebut, Kakek Suto mengambil buah-buah mangga yang siap dipetik. Kedua cucu Kakek Suto senang sekali. Mereka akan membuat jus mangga, katanya.

            Pohon Mengkudu memperhatikan cucu Kakek Suto. Sari dan Doni namanya, begitu Kakek Suto tadi memanggil mereka.

          “Alangkah bahagianya aku jika anak-anak itu juga menyukai buahku,” kata Pohon Mengkudu menunduk sedih.

            Pohon Mangga Madu melirik Pohon Mengkudu. Tadinya ia bergembira karena sedang dipanen Kakek Suto, tapi kini tak berani menampakkan rasa bahagianya lagi.

            “Pohon Mengkudu... , jangan bersedih dong. Percayalah... pasti suatu hari nanti anak-anak juga akan suka padamu,” hibur Pohon Mangga Madu.

         Pohon Mengkudu diam. Ia tahu Pohon Mangga Madu hanya menghiburnya saja. Tapi, Pohon Mengkudu jadi deg-degan setelah Kakek Suto dan kedua cucunya menghampiri dirinya.  Mau apa ya? Pikir Pohon Mengkudu.

          “Ini pohon kesayangan Kakek. Buah-buahnya selalu membuat Kakek sehat, tidak terkena tekanan darah tinggi. Buah-buah ini juga bisa mengobati sakit demam, batuk dan sakit perut, lho,” ucap Kakek Suto pada Sari dan Doni. Kedua cucu Kakek Suto manggut-manggut.

        “Pohon ini juga bisa menghilangkan sisik kaki kalian. Ayo, Kakek tunjukkan caranya,” ucap Kakek.

          Lalu Kakek Suto mengambil buah mengkudu yang masak. Kemudian menggosok-gosokkan buah itu ke kaki. Sari dan Doni pun mengikuti apa yang dilakukan Kakek Suto. 

           “Sedang apa, Kek?” tanya anak-anak yang suka main lempar-lemparan buah mengkudu.

          “Membersihkan kaki yang bersisik. Setelah digosokkan, biarkan 5-10 menit. Setelah itu bersihkan dengan kain bersih yang dibasahi air hangat. Ayo, kalian boleh mencobanya,” ucap Kakek Suto.

       Seketika anak-anak itu menirukan apa yang dilakukan Kakek Suto, Sari dan Doni. Mereka melakukan dengan tertawa riang. Mereka tak menyangka, buah yang biasanya mereka buang dan injak-injak, ternyata ada manfaatnya.

Pohon Mengkudu terharu. Ia pun mulai menari lagi mengikuti gerakan angin dengan tersenyum gembira. ***


Cerpen Anak : Senyum Kemiri


Kilas balik :

Saat hendak menulis cerita ini yang saya pikirkan adalah ingin membuat cerita dengan judul yang unik dan membuat pembaca bertanya-tanya. Seperti:

- Siapa yang tersenyum?

- Kok kemiri senyum?

- Ada apa dengan kemiri?

Jadi kemiri ini adalah bumbu dapur yang bisa membuat tokohnya bahagia. Oiya, satu lagi bandana mutiara yang saya sebutkan dalam cerita adalah benda yang saat itu baru saya beli untuk anak. Jadi, benda-benda di sekitar kita bisa mempermanis cerita yang kita tulis. Penasaran? Yuk baca ceritanya.


Senyum Kemiri

Oleh Nurul Ikoma K

Aku sudah bosan dengan rambut pendek sebahu. Aku ingin sekali punya rambut panjang seperti Tiara. Yang jika digerai akan tampak indah dan bagus sekali. Selain itu bisa dikepang, atau dikuncir dengan karet warna-warni. Tapi, Mama tak pernah mengijinkan.

       “Amanda... ini Mama bawa bandana baru. Ada mutiaranya, cantik sekali,” ucap Mama mengulurkan tas plastik kecil berlogo toko aksesoris langganannya.

            “Mama lama sekali pulangnya?” tanyaku.

          Mama tersenyum. Lalu Mama melepas sepatu dan meletakkannya di rak. Kemudian Mama menghampiriku.

          “Sepulang kerja tadi, Mama mampir dulu ke toko aksesoris. Beli bandana ini, buat kamu sayang. Ini model terbaru lho,” jelas Mama.

            “Bandana Amanda kan sudah banyak, Ma?” kataku.

         “Nggak apa-apa. Biar Amanda bisa ganti-ganti bandananya. Biar nggak bosan,” kata Mama lalu meninggalkanku ke kamar.

            Kupandangi bandana baru dari Mama. Lalu kucoba di kepalaku dan bercermin. Tidak ada yang spesial. Bagiku, bandana ini sama saja dengan bandana-bandana lain yang sudah kupunya.

            “Senyum dong, biar cantik,” kata Mama seusai ganti baju.

            “Ma... bolehkan kalau rambutku panjang seperti Tiara?” tanyaku hati-hati.

            Mama langsung menggeleng cepat, seperti biasa.

            “Punya rambut panjang itu repot, nanti menyisirnya jadi lebih lama,” kata Mama.

            Aku pun cemberut.

**

         “Rambut Tiara bagus sekali, Tante. Tebal dan hitam berkilau. Sering dirawat ke salon, ya?” tanyaku suatu hari ketika main ke rumah Tiara.

           Tante Mira yang sedang mengepang rambut Tiara, menggeleng tersenyum. Sedangkan Tiara cekikikan mendengar pertanyaanku. Ah, masa sih nggak pernah? Tanyaku dalam hati.

            “Aku ingin punya rambut panjang seperti Tiara, Tante. Tapi, Mama selalu melarangku,” kataku kemudian.

            “Kenapa?” tanya Tante Mira.

            “Kata Mama, punya rambut panjang itu repot dan mahal karena harus dirawat di salon. Mamaku pelit ya, Tante,” jawabku sedih.

          “Bukan pelit. Mungkin Mama punya maksud lain. Biar Amanda lebih mudah menyisir rambut sendiri, misalnya,”  jelas Ibu Tiara.

**

          “Kok anak Mama sekarang nggak pernah lagi tersenyum kalau sedang bercermin? Kenapa?” tanya Mama.

          Aku hanya geleng-geleng kepala. Kemudian Mama memanggilku agar duduk di sebelahnya. Tangan Mama membawa cawan kecil.

          “Tadi pagi Mama mendapat resep ajaib. Lalu Mama tertarik untuk membuatnya,” Mama bercerita.

            “Resep ajaib? Dari siapa?” tanyaku mulai tertarik.

       Mama mengangguk. Lalu menyuruhku duduk membelakangi Mama. Kemudian Mama mengoleskan minyak di kulit kepalaku sambil memijat-mijat.

           “Resep ajaib ini dari Tante Mira. Amanda ingin punya rambut tebal dan hitam seperti Tiara, ya? ” ujar Mama masih mengolesi rambutku.

            “Iya,” jawabku.

         “Kalau begitu tiap hari libur Mama akan mengolesi rambut Amanda dengan minyak kemiri ini,”  kata Mama tersenyum.

            “Kemiri? Bumbu dapur yang bentuknya hampir bulat itu?” tanyaku.

            “Iya. Kemirinya ditumbuk dan disangrai, agar minyaknya keluar,” jelas Mama.

       Hatiku riang gembira. Aku berharap ini tanda bahwa Mama akan membolehkanku mempunyai rambut panjang seperti Tiara.

           “Mama sedih loh,  Amanda sekarang nggak mau pakai bandana yang dibelikan Mama,” ucap Mama kemudian.

              Aku kaget mendengarnya. Lalu aku menghadap Mama, sehingga Mama terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ada perasaan bersalah ketika aku melihat Mama bersedih.

           “Maaf, Ma. Tapi aku sudah bosan pakai bandana di rambutku yang pendek ini,” kataku akhirnya.

           Mama menghela napas panjang.

          “Amanda boleh punya rambut panjang, tapi tidak sekarang. Tahun depan saja, ya? Saat itu pasti Amanda sudah semakin besar dan semakin pandai merawat dan menyisir rambut sendiri,” kata Mama.

       Aku mengangguk senang. Kupeluk Mama dan mengucapkan terimakasih padanya. Senyumku pun mengembang. Senyum rasa kemiri. ***