Nurul Ikoma
Rabu, 15 Oktober 2025
Komik Misteri : Misteri di Hutan Kalimantan
Komik Baik : Vlog Viral Amel
Jumat, 08 Agustus 2025
Setelah Vakum Lama Alhamdulillah Segera Terbit Buku Baru
Senin, 04 Agustus 2025
Buku Islami : Allah Mencipta Manusia Meniru
Buku Allah Mencipta Manusia Meniru
Oleh Nurul Ikoma dan Fadila Hanum
Penerbit : Tiga Ananda (Imprint Tiga Serangkai)
Ilustrator : Innerchild Std
Masyaallah! Betapa mengagumkannya ciptaan Allah SWT dengan keunikan masing-masing.
Ciptaan Allah ini ternyata menginspirasi manusia untuk membuat berbagai benda dan kreasi yang membantu kehidupan manusia lainnya.
Apa saja ya kreasi manusia yang terinspirasi dari ciptaan Allah SWT? Ayo, cari tahu bersama buku ini.
Buku ini saya tulis bersama Mbak Fadila Hanum. Ada banyak cerita seru di dalamnya, selain menarik ilustrasinya juga cantik. Buku ini bisa dibeli di market place ya teman-teman, bagus untuk menambah wawasan anak-anak.
Buku Islami : Seri Kebenaran Al Qur'an
Buku Seri Kebenaran Al Qur'an
Oleh Nurul Ikoma
Dongeng Bobo : Tarian Pohon Mengkudu
Kilas balik :
Kalau nggak salah saya menulis cerita ini karena tinggal di perumahan yang banyak sekali ditanami pohon mangga. Namun ada satu rumah yang menarik perhatian saya, yakni tidak menanam pohon mangga melainkan menanam pohon mengkudu.
Dari sini saya cari info manfat buah mengkudu. Alhadulillah cerita ini tembus Bobo. Saat melihat ilustrasinya mata langsung berkaca-kaca karena terharu.
Tarian Pohon Mengkudu
Oleh Nurul Ikoma
Namanya
Pohon Mengkudu. Pohon yang dikenal dengan buah buruk rupa ini, suka menari jika
ada angin yang menerpanya.
“Hmmm... haruuum...,” ucap Pohon Mengkudu
meliuk-liuk mengikuti gerakan angin.
Ia
terus menerus mengendus aroma bunga mangga yang ada disekitarnya. Pohon
Mengkudu memang suka aroma wangi bunga mangga. Pohon-pohon mangga jadi
tersenyum geli melihatnya.
“Wah...
lihat! Pohon Mengkudu sedang menari,” kata Pohon Mangga Gadung.
“Kamu
benar-benar lucu, Pohon Mengkudu,” seru Pohon Mangga Manalagi.
“Iya...
ya. Dia selalu membuat kita tertawa,” sahut Pohon Mangga Madu.
Mendengar
itu, Pohon Mengkudu terus menggoyang-goyangkan badannya. Ia senang dengan
ucapan teman-temannya. Namun tiba-tiba angin besar berhembus dan merontokkan
buah-buah Pohon Mengkudu.
Anak-anak
kecil yang kebetulan lewat, mengambil buah-buah itu. Lalu mereka saling
melempar dan membuangnya. Bahkan ada pula yang menginjak-injak atau membanting
buah kuning kehijauan itu. Pohon Mengkudu jadi sedih sekali.
**
“Wah...
asyiiik..., sebentar lagi buah-buahku akan di panen,” kata Pohon Mangga Gadung.
“Iya.
Bahkan buahku yang masih muda pun juga dipanen, karena sudah manis,” seru Pohon
Mangga Manalagi.
“Buahku
juga manis, lho,” sahut Pohon Mangga Madu tak mau kalah.
Pohon-pohon
mangga itu sedang bergembira. Bunga-bunga mereka sudah berganti menjadi buah
yang siap panen.
“Buahku
juga siap dipanen, lho,” teriak Pohon Mengkudu memberitahu. Ia tersenyum sambil
terus menari-nari karena hembusan angin.
Pohon-pohon
mangga tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sebagian ada yang sampai
terbatuk-batuk. Pohon Mengkudu masih tersenyum. Dikiranya, pohon mangga-mangga
itu sedang tertawa melihat tariannya.
“Tapi,
yang suka buah kamu itu cuma Kakek Suto,” kata Pohon Mangga Gadung tertawa.
“Anak-anak
kecil di sini tidak suka buah mengkudu. Hihihi...,” Pohon Mangga Manalagi
terkekeh.
Pohon
Mengkudu berhenti menari. Mukanya cemberut.
“Teman-teman...
hentikan gurauan kalian. Lihat, Pohon Mengkudu jadi bersedih!” ucap Pohon Mangga
Madu.
Pohon
Mangga Gadung dan Manalagi langsung menghentikan tawa mereka. Sejak saat itu
Pohon Mengkudu selalu bersedih, ia tak mau tersenyum walaupun sedang menari
bersama angin. Ia baru tersenyum jika Kakek Suto mengambil buah-buahnya.
**
“Kemana ya, Kakek Suto? Harusnya ia
sudah mengambil buah-buahku lagi,” gumam Pohon Mengkudu.
“Hei... Kakek Suto datang. Pasti ia
akan mengambil buah-buahmu,” seru Pohon Mangga Madu.
Kakek
Suto datang bersama cucu-cucunya. Ia membawa galah dan keranjang kecil. Pohon
Mengkudu bergembira.
Tapi,
Kakek Suto berhenti di bawah pohon mangga madu. Dengan galah tersebut, Kakek
Suto mengambil buah-buah mangga yang siap dipetik. Kedua cucu Kakek Suto senang
sekali. Mereka akan membuat jus mangga, katanya.
Pohon Mengkudu memperhatikan cucu
Kakek Suto. Sari dan Doni namanya, begitu Kakek Suto tadi memanggil mereka.
“Alangkah bahagianya aku jika
anak-anak itu juga menyukai buahku,” kata Pohon Mengkudu menunduk sedih.
Pohon Mangga Madu melirik Pohon
Mengkudu. Tadinya ia bergembira karena sedang dipanen Kakek Suto, tapi kini tak
berani menampakkan rasa bahagianya lagi.
“Pohon Mengkudu... , jangan bersedih
dong. Percayalah... pasti suatu hari nanti anak-anak juga akan suka padamu,”
hibur Pohon Mangga Madu.
Pohon Mengkudu diam. Ia tahu Pohon
Mangga Madu hanya menghiburnya saja. Tapi, Pohon Mengkudu jadi deg-degan
setelah Kakek Suto dan kedua cucunya menghampiri dirinya. Mau apa ya? Pikir Pohon Mengkudu.
“Ini pohon kesayangan Kakek.
Buah-buahnya selalu membuat Kakek sehat, tidak terkena tekanan darah tinggi.
Buah-buah ini juga bisa mengobati sakit demam, batuk dan sakit perut, lho,”
ucap Kakek Suto pada Sari dan Doni. Kedua cucu Kakek Suto manggut-manggut.
“Pohon ini juga bisa menghilangkan
sisik kaki kalian. Ayo, Kakek tunjukkan caranya,” ucap Kakek.
Lalu Kakek Suto mengambil buah
mengkudu yang masak. Kemudian menggosok-gosokkan buah itu ke kaki. Sari dan
Doni pun mengikuti apa yang dilakukan Kakek Suto.
“Sedang apa, Kek?” tanya anak-anak
yang suka main lempar-lemparan buah mengkudu.
“Membersihkan kaki yang bersisik.
Setelah digosokkan, biarkan 5-10 menit. Setelah itu bersihkan dengan kain
bersih yang dibasahi air hangat. Ayo, kalian boleh mencobanya,” ucap Kakek
Suto.
Seketika anak-anak itu menirukan apa
yang dilakukan Kakek Suto, Sari dan Doni. Mereka melakukan dengan tertawa
riang. Mereka tak menyangka, buah yang biasanya mereka buang dan injak-injak,
ternyata ada manfaatnya.
Pohon
Mengkudu terharu. Ia pun mulai menari lagi mengikuti gerakan angin dengan
tersenyum gembira. ***
Cerpen Anak : Senyum Kemiri
Kilas balik :
Saat hendak menulis cerita ini yang saya pikirkan adalah ingin membuat cerita dengan judul yang unik dan membuat pembaca bertanya-tanya. Seperti:
- Siapa yang tersenyum?
- Kok kemiri senyum?
- Ada apa dengan kemiri?
Jadi kemiri ini adalah bumbu dapur yang bisa membuat tokohnya bahagia. Oiya, satu lagi bandana mutiara yang saya sebutkan dalam cerita adalah benda yang saat itu baru saya beli untuk anak. Jadi, benda-benda di sekitar kita bisa mempermanis cerita yang kita tulis. Penasaran? Yuk baca ceritanya.
Senyum Kemiri
Oleh Nurul Ikoma K
Aku
sudah bosan dengan rambut pendek sebahu. Aku ingin sekali punya rambut panjang
seperti Tiara. Yang jika digerai akan tampak indah dan bagus sekali. Selain itu
bisa dikepang, atau dikuncir dengan karet warna-warni. Tapi, Mama tak pernah
mengijinkan.
“Amanda... ini Mama bawa bandana
baru. Ada mutiaranya, cantik sekali,” ucap Mama mengulurkan tas plastik kecil
berlogo toko aksesoris langganannya.
“Mama lama sekali pulangnya?”
tanyaku.
Mama tersenyum. Lalu Mama melepas
sepatu dan meletakkannya di rak. Kemudian Mama menghampiriku.
“Sepulang kerja tadi, Mama mampir
dulu ke toko aksesoris. Beli bandana ini, buat kamu sayang. Ini model terbaru
lho,” jelas Mama.
“Bandana Amanda kan sudah banyak,
Ma?” kataku.
“Nggak apa-apa. Biar Amanda bisa
ganti-ganti bandananya. Biar nggak bosan,” kata Mama lalu meninggalkanku ke
kamar.
Kupandangi bandana baru dari Mama.
Lalu kucoba di kepalaku dan bercermin. Tidak ada yang spesial. Bagiku, bandana
ini sama saja dengan bandana-bandana lain yang sudah kupunya.
“Senyum dong, biar cantik,” kata
Mama seusai ganti baju.
“Ma... bolehkan kalau rambutku
panjang seperti Tiara?” tanyaku hati-hati.
Mama langsung menggeleng cepat,
seperti biasa.
“Punya rambut panjang itu repot,
nanti menyisirnya jadi lebih lama,” kata Mama.
Aku pun cemberut.
**
“Rambut
Tiara bagus sekali, Tante. Tebal dan hitam berkilau. Sering dirawat ke salon,
ya?” tanyaku suatu hari ketika main ke rumah Tiara.
Tante Mira yang sedang mengepang
rambut Tiara, menggeleng tersenyum. Sedangkan Tiara cekikikan mendengar
pertanyaanku. Ah, masa sih nggak pernah? Tanyaku dalam hati.
“Aku ingin punya rambut panjang
seperti Tiara, Tante. Tapi, Mama selalu melarangku,” kataku kemudian.
“Kenapa?” tanya Tante Mira.
“Kata Mama, punya rambut panjang itu
repot dan mahal karena harus dirawat di salon. Mamaku pelit ya, Tante,” jawabku
sedih.
“Bukan pelit. Mungkin Mama punya
maksud lain. Biar Amanda lebih mudah menyisir rambut sendiri, misalnya,” jelas Ibu Tiara.
**
“Kok anak Mama sekarang nggak pernah
lagi tersenyum kalau sedang bercermin? Kenapa?” tanya Mama.
Aku hanya geleng-geleng kepala.
Kemudian Mama memanggilku agar duduk di sebelahnya. Tangan Mama membawa cawan
kecil.
“Tadi pagi Mama mendapat resep
ajaib. Lalu Mama tertarik untuk membuatnya,” Mama bercerita.
“Resep ajaib? Dari siapa?” tanyaku
mulai tertarik.
Mama mengangguk. Lalu menyuruhku duduk
membelakangi Mama. Kemudian Mama mengoleskan minyak di kulit kepalaku sambil
memijat-mijat.
“Resep ajaib ini dari Tante Mira. Amanda
ingin punya rambut tebal dan hitam seperti Tiara, ya? ” ujar Mama masih
mengolesi rambutku.
“Iya,” jawabku.
“Kalau begitu tiap hari libur Mama
akan mengolesi rambut Amanda dengan minyak kemiri ini,” kata Mama tersenyum.
“Kemiri? Bumbu dapur yang bentuknya
hampir bulat itu?” tanyaku.
“Iya. Kemirinya ditumbuk dan
disangrai, agar minyaknya keluar,” jelas Mama.
Hatiku riang gembira. Aku berharap
ini tanda bahwa Mama akan membolehkanku mempunyai rambut panjang seperti Tiara.
“Mama sedih loh, Amanda sekarang nggak mau pakai bandana yang
dibelikan Mama,” ucap Mama kemudian.
Aku kaget mendengarnya. Lalu aku
menghadap Mama, sehingga Mama terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ada perasaan
bersalah ketika aku melihat Mama bersedih.
“Maaf, Ma. Tapi aku sudah bosan
pakai bandana di rambutku yang pendek ini,” kataku akhirnya.
Mama menghela napas panjang.
“Amanda boleh punya rambut panjang,
tapi tidak sekarang. Tahun depan saja, ya? Saat itu pasti Amanda sudah semakin
besar dan semakin pandai merawat dan menyisir rambut sendiri,” kata Mama.
Aku mengangguk senang. Kupeluk Mama
dan mengucapkan terimakasih padanya. Senyumku pun mengembang. Senyum rasa
kemiri. ***


.jpeg)







