Kilas balik :
Saat hendak menulis cerita ini yang saya pikirkan adalah ingin membuat cerita dengan judul yang unik dan membuat pembaca bertanya-tanya. Seperti:
- Siapa yang tersenyum?
- Kok kemiri senyum?
- Ada apa dengan kemiri?
Jadi kemiri ini adalah bumbu dapur yang bisa membuat tokohnya bahagia. Oiya, satu lagi bandana mutiara yang saya sebutkan dalam cerita adalah benda yang saat itu baru saya beli untuk anak. Jadi, benda-benda di sekitar kita bisa mempermanis cerita yang kita tulis. Penasaran? Yuk baca ceritanya.
Senyum Kemiri
Oleh Nurul Ikoma K
Aku
sudah bosan dengan rambut pendek sebahu. Aku ingin sekali punya rambut panjang
seperti Tiara. Yang jika digerai akan tampak indah dan bagus sekali. Selain itu
bisa dikepang, atau dikuncir dengan karet warna-warni. Tapi, Mama tak pernah
mengijinkan.
“Amanda... ini Mama bawa bandana
baru. Ada mutiaranya, cantik sekali,” ucap Mama mengulurkan tas plastik kecil
berlogo toko aksesoris langganannya.
“Mama lama sekali pulangnya?”
tanyaku.
Mama tersenyum. Lalu Mama melepas
sepatu dan meletakkannya di rak. Kemudian Mama menghampiriku.
“Sepulang kerja tadi, Mama mampir
dulu ke toko aksesoris. Beli bandana ini, buat kamu sayang. Ini model terbaru
lho,” jelas Mama.
“Bandana Amanda kan sudah banyak,
Ma?” kataku.
“Nggak apa-apa. Biar Amanda bisa
ganti-ganti bandananya. Biar nggak bosan,” kata Mama lalu meninggalkanku ke
kamar.
Kupandangi bandana baru dari Mama.
Lalu kucoba di kepalaku dan bercermin. Tidak ada yang spesial. Bagiku, bandana
ini sama saja dengan bandana-bandana lain yang sudah kupunya.
“Senyum dong, biar cantik,” kata
Mama seusai ganti baju.
“Ma... bolehkan kalau rambutku
panjang seperti Tiara?” tanyaku hati-hati.
Mama langsung menggeleng cepat,
seperti biasa.
“Punya rambut panjang itu repot,
nanti menyisirnya jadi lebih lama,” kata Mama.
Aku pun cemberut.
**
“Rambut
Tiara bagus sekali, Tante. Tebal dan hitam berkilau. Sering dirawat ke salon,
ya?” tanyaku suatu hari ketika main ke rumah Tiara.
Tante Mira yang sedang mengepang
rambut Tiara, menggeleng tersenyum. Sedangkan Tiara cekikikan mendengar
pertanyaanku. Ah, masa sih nggak pernah? Tanyaku dalam hati.
“Aku ingin punya rambut panjang
seperti Tiara, Tante. Tapi, Mama selalu melarangku,” kataku kemudian.
“Kenapa?” tanya Tante Mira.
“Kata Mama, punya rambut panjang itu
repot dan mahal karena harus dirawat di salon. Mamaku pelit ya, Tante,” jawabku
sedih.
“Bukan pelit. Mungkin Mama punya
maksud lain. Biar Amanda lebih mudah menyisir rambut sendiri, misalnya,” jelas Ibu Tiara.
**
“Kok anak Mama sekarang nggak pernah
lagi tersenyum kalau sedang bercermin? Kenapa?” tanya Mama.
Aku hanya geleng-geleng kepala.
Kemudian Mama memanggilku agar duduk di sebelahnya. Tangan Mama membawa cawan
kecil.
“Tadi pagi Mama mendapat resep
ajaib. Lalu Mama tertarik untuk membuatnya,” Mama bercerita.
“Resep ajaib? Dari siapa?” tanyaku
mulai tertarik.
Mama mengangguk. Lalu menyuruhku duduk
membelakangi Mama. Kemudian Mama mengoleskan minyak di kulit kepalaku sambil
memijat-mijat.
“Resep ajaib ini dari Tante Mira. Amanda
ingin punya rambut tebal dan hitam seperti Tiara, ya? ” ujar Mama masih
mengolesi rambutku.
“Iya,” jawabku.
“Kalau begitu tiap hari libur Mama
akan mengolesi rambut Amanda dengan minyak kemiri ini,” kata Mama tersenyum.
“Kemiri? Bumbu dapur yang bentuknya
hampir bulat itu?” tanyaku.
“Iya. Kemirinya ditumbuk dan
disangrai, agar minyaknya keluar,” jelas Mama.
Hatiku riang gembira. Aku berharap
ini tanda bahwa Mama akan membolehkanku mempunyai rambut panjang seperti Tiara.
“Mama sedih loh, Amanda sekarang nggak mau pakai bandana yang
dibelikan Mama,” ucap Mama kemudian.
Aku kaget mendengarnya. Lalu aku
menghadap Mama, sehingga Mama terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ada perasaan
bersalah ketika aku melihat Mama bersedih.
“Maaf, Ma. Tapi aku sudah bosan
pakai bandana di rambutku yang pendek ini,” kataku akhirnya.
Mama menghela napas panjang.
“Amanda boleh punya rambut panjang,
tapi tidak sekarang. Tahun depan saja, ya? Saat itu pasti Amanda sudah semakin
besar dan semakin pandai merawat dan menyisir rambut sendiri,” kata Mama.
Aku mengangguk senang. Kupeluk Mama
dan mengucapkan terimakasih padanya. Senyumku pun mengembang. Senyum rasa
kemiri. ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar